16 Jan 2012

PASAR TRADISIONAL "SEPI"

Rumahku dekat dengan  sekolah,mushola,toko, warung makan, mini market dan pasar tradisional, makanya dengan mudah mendapatkan sesuatu kebutuhan tanpa kesulitan.

Namun jika melihat pasar tradisional yang dekat dengan rumahku tersebut, sangat memprihatinkan suasananya sepi karena banyak kios-kios yang kosong atau tutup, jam buka juga hanya dari pagi sampai siang pukul 11.00 wib.

pasar tradisional "NITEN" tampak dari depan

banyak kios yang masih kosong dan tutup

Beberapa kali aku mencoba berbelanja ke pasar tradisional tersebut, lama kelamaan jadi tahu juga mengapa pasar tradisional suasananya sepi kalah dengan mini market, super market yang ada di sekitarnya, ternyata setelah beberapa kali saya berbelanja ke pasar tersebut ada pengalaman yang membuat aku malas bila berbelanja kembali, dibawah ini cerita pengalamanku.

Aku membeli bumbu dapur lengkap, seperti bawang merah, bawang putih, cabai dan segala rempah untuk memasak, ketika membeli bawang merah 1/4 kg yang harga perkg saat itu cuma Rp 6.000, si penjual malahan berkata " bu sekalian 1/2 kg saja cuma Rp 3000" padahal aku cuma ingin 1/4 kg saja karena bagiku sudah cukup tetapi tetap saja penjual menimbang bawang merah 1/2 kg, selanjutnya aku membeli telur bebek asin yang sudah matang yang perbutir harganya Rp 2000 aku tawar jadi Rp 1.500 karena membeli 10 butir, kemudian penjual setuju dengan harga tersebut tetapi aku tidak boleh memilih sendiri telurnya jadi harus si penjual yang memilihnya dan memasukkannya kekantong plastik, selanjutnya aku membeli buah jeruk 2 kg yang perkg Rp 7.500, karena sisa uangku tinggal Rp 20.000 untuk beli jeruk 2 kg tersebut biar ada kembalian  Rp 5.000 untuk membeli kerupuk, tetapi si penjual bukannya melayani keinginanku jeruk yang 2 kg, malahan nambahin timbangan jeruknya menjadi ngepas Rp 20.000.


Begitu pengalamanku yang mengecewakan belanja ke pasar tradisional, makanya lebih suka belanja di mini market atau super market daripada pasar tradisional.


18 komentar:

  1. yah, mungkin itu karena sepi mbak jadi pedagang mecari keuntungan sebesar2nya pas ada pembeli datang. Coba pasar tradisionalnya rame, pedagang gak perlu seperti itu untuk medapatkan keuntungan.. :)

    BalasHapus
  2. Pantes aja sepi ya... Penjual2 di pasar kelebihan cerdas (untuk kepentingannya sendiri) sampai kurang memperhatikan etika :)
    Salam ya bunda..

    BalasHapus
  3. melihat maraknya minimarket,seharusnya para pedagang lebih baik men-service pembeli ya....

    BalasHapus
  4. Kalau pasar tradisional ditempat saya "baunya" Mbak yg nggak nguwati...
    Amis, penguk, apeg, semua jadi satu...
    Badheg juga....

    BalasHapus
  5. wah2... lihat pengalamannya kok begitu ya,
    harusnya tegas sedikit, klu belinya sekian jumlahnya, ya sekian... jangan mau aja ditambahin. atau seperti telur itu, klu enggak mau kita yang pilih, kita tinggalin aja pembelinya, banyak cara yang bisa dilakukan dalam berbelanja di pasar tradisional.
    sebenarnya jga, klu kita udah jadi langganan dgn beberapa penjual di pasar itu, pasti juga akan lebih mudah loh...
    tapi tetap pasar tradisional harus ada, kadang2 apa yang dicari di supermarket tidak ada, malah di pasar tradisional yang ada.
    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau saya suka belanja di pasar tradisional. lebih asyik sich...

      Hapus
  6. berarti pelaku penjual sendiri yang membuat pasar itu sepi :)

    BalasHapus
  7. krn kbyakan pasar tradisional bauny it karn kbersihanx tidak trjg par pgunax

    BalasHapus
  8. kalau gitu bukan karena ada minimarket pasar tradisional jadi sepi tapi karena ulah pedagang tradisional itu sendiri yang tidak bisa melayani pembeli dengan baik

    BalasHapus
  9. lhah kok barengan mbak nura . habis mbaca crita mbak nura, gak cuma satu pedagang yang nyari keuntungan dengan cara 'aneh' mereka .
    apa saking sepinya mreka nglakuin itu smua supaya dapet untung :/
    dari gambar diatas bagus lo pasarnya . bersih . "Tapi kok koyo ngono bakule" :p

    BalasHapus
  10. sayang sekali klau pasar tradisional sepi, padahal pedagang kecil berpenghasilan dari pasar tersebut.

    BalasHapus
  11. sayang sekali klau pasar tradisional sepi...

    BalasHapus
  12. saya tidak pernah ke pasar tradisional mbak, paling kalau belanja dipasar kaget dekat ruah yang hanya sampai 9 pagi.itu saja sudah lengkap

    BalasHapus
  13. gimana kagak sepi kalau pasar tradisional terus terusan di hantam oleh pasar bebas yang hampir semua barangnya untuk barang dari luar negri bukan produk asli indonesia

    BalasHapus
  14. pasar tradisional kalah bersaing sama pasar modern yang notabene lebih memanjakan konsumen

    BalasHapus
  15. Kayaknya gak nyaman sekali kedengarannya.. timbul sebuah pertanyaan.. Apakah pasar tradisional disana sepi.. karna memang sepi.. sehingga para pedagang rakus saat ada pembeli.. atau memang pasar tradisionalnnya sepi karna memang pedaganggnya kayak gitu semua.. rakus..

    BalasHapus
  16. apa kayak gitu semua?
    baaaah itu sifat pedagangnya yg membuat sepi.
    kalo belanja di belakang beringharjo asiiik juga lho

    BalasHapus
  17. itu sama kaya pasar sekumpul yang ada di martapura kalimantan selatan

    BalasHapus

Terimakasih sahabat telah menuliskan komentar.